Pernikahan Kami Di Perancis

03 maret 2018 adalah hari pernikahan saya dan si A telah berlangsung di Perancis.

Tepat dimusim semi pada tahun 2017 kami telah memantapkan hati untuk memilih tanggal pernikahan dan dengan tema Pedesaan, Romantis dan Elegan. 

Kami memilih tema tersebut, selain simple kami juga tidak suka yang berbau dekorasi modern, dan juga tema tersebut sangat cocok di gabungkan dengan lokasi resepsi pernikahan kami yang sangat tradisional dan berada di kota kecil pinggir sungai.

Singkat cerita tentang pernikahan kami, awalnya kami ingin melakukan di tanggal 30 maret.

Karena tanggal tersebut jatuh di hari jum’at banyak orang tidak bisa hadir untuk ke acara sipil dan resepsi pernikahan kami.

Akibatnya kami memilih untuk memajukan, yaitu tepat di tanggal 03 maret 2017, yup hapir satu bulan lebih awal dan otomatis persiapan untuk memesan tempat resepsi harus segera di pesan.

Kenapa kami memilih angka 3 ? karena angka tersebut mewakili bulan “maret” dimana saya dan si A mulai menjalin hubungan, alias berpacaran.

Setelah kami memblok tanggal pernikahan di La Mairie 6 – 7 bulan sebelumnya, kami pun mulai mempersiapkan dokumen pernikahan dan juga visa keluarga saya yang ada di indonesia untuk menghadiri pernikahan kami tersebut.

Terang saja, secara bersamaan kami bukan hanya mengurus dokumen nikah dan visa, melainkan kami juga harus mampersiapkan dokumen perpanjangan CDS (Carte de Séjour) secara bersamaan, artinya stress dan keribetan yang kami hadapi berlipat-lipat.

“Hari yang ditunggu-tunggu tiba !! bangun lebih awal…”

Walaupun malam sebelum saya hanya tidur selama 5 jam di karenakan kami harus latihan dansa secara otodidak di kediaman orangtua si A.

Karena di setiap acara pernikahan khususnya di Perancis wajib menampilkan tarian biasanya di sebut ” l’ouverture du bal” atau “first dance”. Sepertinya hampir di setiap negara tidak hanya di Perancis.

Setelah pasangan pengantin baru selesai berdansa, maka para tamu undangan harus berdansa bersama si pengantin.

Jam 8.30 waktunya saya mendatangi salah satu salon yang saya percayakan untuk menata rambut dan makeup.

Padahal sebelumnya kami telah membooking salah satu makeup artis untuk datang kerumah agar photographer kami tidak perlu pindah tempat kesana kemari ketika pengambilan foto.

Dan ternyata tidak seperti harapan kami , deposit dan test makeup pun telah di bayar dengan melalui pembayaran cek.

Tetapi, entah mengapa pada saat setelah test makeup dan rambut hasilnya tidak memuaskan sama sekali, dengan harga ratusan euro kami pikir walaupun masih percobaan yang penting hasilnya masih terlihat natural. Dan hasilnya tidak sesuai harapan kami, khususnya saya.

Tanggal 11 februari akhirnya si A menelpon tukang makeup tersebut untuk di cancel, ia pun menyetujui dan mengembalikan setengah uang kami.

Maka terjadilah pembookingan kepada pihak salon yang baru ini secara mendadak, yaitu 3 minggu sebelum hari H.

Saya beruntung hasilnya sangat memuskan dari yang pertama.

Karena acara pernikahan sipil akan di laksanakan pada jam 3 siang.

Tetapi para tamu undangan beserta calon pengantin harus datang 15 menit sebelum acara.

Jadi sebelumnya sang photographer harus mengambil disetiap detail pakaian dan barang yang akan kami kenakan, sambil menunggu si A datang beserta dengan rombongan yang lainnya, yaitu 2 orang saksi, kedua orang tua dan juga ada beberapa keluarga dan kerabat.

Tradisi pemberian buket bunga adalah salah satu tradisi pernikahan yang ada di perancis.

Jadi calon pengantin pria harus datang ketempat si calon pengantin wanita dengan membawakan sabuket bunga dan kemudian pergi bersama ke La Mairie (balai kota) dengan menggunakan kendaraan yang berbeda.

“Tangisan haru…”

Saya di jemput oleh ayah si A, dengan menggunakan mobil pengantin. Sedangkan si A di jemput oleh salah satu saksi nikah kami, yaitu salah satu sahabat A.

Pada saat si A datang dengan membawakan bunga, saya hampir menangis karena haru. Tentu saja saya harus menahan perasaan tersebut karena make up yang telah saya kenakan agar tidak luntur.

“Bukan di La mairie ataupun Balai kota, melainkan pernikahan sipil kami di lakukan di dalam kastil”

Saat kami sampai di La Mairie sudah banyak teman dan kerabat yang menunggu kami dan mengucapkan selamat. Kami sangt beruntung walaupun musim tersebut masih di musim dingin tetapi cuaca cerah bagaiman musim semi.

Langit biru dan matahari pun terang menderang. Tentu saja kami masih memakai jaket untuk di luar ruangan.

Saat tamu undangan, keluarga, M. Le Maire (gelar seseorang yang akan menikahkan kami) dan para saksi lainnya sudah menunggu didalam.

Saya dan si A beserta ibu kami akhirnya masuk ke ruangan dengan di iringi musik yang kami pilih, yaitu dari Antonio Vivaldi 4 season winter – Largo.

Setelah kami duduk, Acte de Mariage akhirnya di bacakan yang berisi bio data si pengantin dan para saksi. Ketika selesai maka di bacakan lagi salah satu dokumen UUD Pernikahan yang di sebut “Célébration du Mariage”.

Sesudah kita mengatakan kata “Oui” yang berati “Ya /Iya” maka kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri, dan kemudian menanda tangani dokumen pernikahan.

Pada saat sselasai menanda tangani, salah satu best man akan membawakan cincin pernikahan.

Sama halnya seperti pernikahan lainnya, saya memakainkan cincin ke jari manis kiri si A begitupun sebaliknya.

“Tempat Resepsi yang sangat romantis dan suasana yang begitu hangat”

Tempat resepsi

Sesi foto bersama keluarga dan kerabat akhirnya kami lakukan setelah acara sipil, dan lagi-lagi kami mendapatkan cuaca yang sangat ramah sampai dengan jam yang kami tentukan.

Tetapi pada saat acara foto selesai, tiba-tiba saja hujan turun pada saat kami ingin menyalakan mobil dan menuju ke tempat resepsi.

Banyak orang berkata, “turunnya hujan adalah pertanda kebahagiaan”…

Perapian

Untung saja hujan berhenti ketika kami sampai di tempat resepsi dan kamipun melewatkan malam pernikahan kami sangat sempurna dan sesuai dengan acara yang kami inginkan.

Yaitu, berpidato, menampilkan foto-foto kami pada saat pertama kali pacaran, pertunangan hingga akan menikah, video si A pada saat ia lahir hingga dewasa, berdansa sampai jam 4 subuh. Sangat seru dan tidak akan  terlupakan walaupun ada sedikit kecelakaan yaitu salah satu saudara si A menumpahkan makanan penutup berupa panna cotta yang terbuat dari berry-berry’an dan membuat gaun saya menjadi ungu.

Untunglah gaun saya sudah bersih kembali seperti semula.

Mme et M.P

Finally we’re married !!

Silvi

7 thoughts on “Pernikahan Kami Di Perancis

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: